Suara dari Dalam Gua: Jejak Kehidupan Manusia Hutan di Gunung Wilis
Bang479 – Warga di sekitar lereng Gunung Wilis, perbatasan Kabupaten Nganjuk dan Tulungagung, mulai resah dengan kemunculan sekelompok orang yang tinggal di dalam hutan. Mereka memilih hidup di gua dan gubuk bambu tanpa identitas yang jelas. Penduduk setempat menjuluki mereka sebagai manusia hutan.
Hidup Tersembunyi di Tengah Rimba
Warga Dusun Sumberpetung, Desa Joho, Kecamatan Pace, pertama kali menyadari keberadaan mereka pada pertengahan 2024. Awalnya, hanya satu pria tua yang menetap di dekat Gua Kuncen. Kini, lima orang menetap di sana, termasuk dua perempuan.
“Mereka jarang berinteraksi. Kadang turun ke desa untuk beli beras atau minyak, tapi selalu menolak ditanya asal-usulnya,” kata Sarmin (63), warga yang tinggal paling dekat dengan lokasi gua, Jumat (7/11/2025).
Untuk mencapai gua, penduduk harus berjalan dua kilometer menembus jalan setapak yang curam dan licin. Lokasinya berada di area hutan produksi Perhutani, petak 44B, Resort Pemangkuan Hutan Joho.
Gua Kuncen yang Kini Tak Terurus
Dulu, Gua Kuncen ramai oleh warga yang datang untuk berziarah dan mengambil air dari sumber alami. Namun, setelah kelompok itu menetap, suasana berubah. Bau apek dan tumpukan sampah membuat pengunjung enggan datang.
“Dulu banyak peziarah. Sekarang hampir tidak ada yang datang karena tempatnya kotor,” tutur Wagini (54), warga setempat
Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan, area gua kini dipenuhi bekas peralatan masak, sisa pembakaran, dan kain bekas yang dijadikan sekat. Dinding gua berlumut dan udara di dalam terasa lembap serta pengap.
Diduga Jalani Laku Spiritual
Kepala Dusun Sumberpetung, Mulyadi, menilai kelompok itu menjalani laku spiritual. Namun ia belum tahu aliran yang mereka anut.
“Beberapa pendaki melihat mereka menyalakan dupa dan bermeditasi malam hari. Tapi ada juga yang bilang mereka lari dari masalah pribadi,” ujar Mulyadi.
Ia mengaku sudah menghubungi Perhutani dan aparat desa untuk mendekati kelompok itu secara baik-baik. Tujuannya agar mereka mau pindah ke tempat yang lebih layak tanpa menimbulkan keributan.
Langkah Tegas Perhutani
Administratur Perhutani KPH Nganjuk, Budi Santosa, membenarkan laporan warga. Ia langsung menugaskan petugas lapangan untuk mendata dan berkomunikasi dengan kelompok tersebut.
“Petugas kami sudah berbicara dengan lima orang yang tinggal di gua. Mereka bilang hanya ingin menyepi dan berjanji akan pergi dalam waktu dekat,” kata Budi.
Namun hingga awal November 2025, kelompok itu tetap tinggal di lokasi. Perhutani sudah menawarkan tempat penampungan sementara dan bantuan logistik, tapi mereka menolak.
“Mereka memilih hidup jauh dari keramaian. Kami tetap pantau supaya aktivitas mereka tidak mengganggu keamanan dan kelestarian hutan,” lanjutnya.
Warga Ingin Gua Kuncen Kembali Jadi Wisata Religi
Masyarakat berharap pemerintah dan Perhutani bisa menata kembali Gua Kuncen agar menjadi destinasi wisata religi seperti dulu. Selain memiliki sumber air alami, kawasan itu menyimpan potensi alam yang indah.
“Tempatnya bagus. Kalau ditata dan dijaga, bisa jadi tujuan wisata. Sayang kalau terus kotor dan sepi,” ucap Sarmin.
Berita fenomena lainnya






