BANG479 – Kelompok yang menamakan diri Kolektif Kelompok Rentan memimpin aksi unjuk rasa yang kembali terjadi di Kota Medan pada Sabtu (6/9/2025). Massa berkumpul di ruang terbuka Jalan Balai Kota. Menyampaikan penolakan terhadap kriminalisasi dan intimidasi di institusi penegak hukum. Aksi ini merupakan bagian dari gelombang demonstrasi nasional yang telah berlangsung sejak akhir Agustus 2025, menyusul pembatalan tunjangan perumahan anggota DPR RI yang belum sepenuhnya meredakan ketegangan.
Tuntutan Utama Aksi
- Pengalihan Anggaran Tunjangan DPR untuk Kebutuhan Rakyat.
Koordinator aksi, Anisa, menegaskan bahwa meskipun pemerintah telah membatalkan tunjangan perumahan DPR RI, tuntutan masyarakat belum sepenuhnya terpenuhi. Mereka mendesak agar pemerintah mengalihkan anggaran tunjangan untuk sektor pendidikan dan kesehatan, yang merupakan kebutuhan dasar rakyat. - Penghentian Brutalitas dan Kriminalisasi Aparat Kepolisian.
- Reformasi Institusi Kepolisian.
Massa mendesak pemerintah untuk mengevaluasi dan mereformasi aparat kepolisian secara menyeluruh agar menjadi lembaga yang profesional, akuntabel, demokratis, dan bebas dari penyalahgunaan kekuasaan. - Penolakan Kebijakan yang Merugikan Rakyat.
Tuntutan lainnya yaitu penolakan buruh terhadap upah murah, perampasan rakyat atas ruang hidup, serta penolakan terhadap fungsi multifungsi TNI yang dinilai berpotensi mengembalikan praktik militeristik. - Konteks Nasional dan Dukungan dari Kelompok Lain.
Aksi di Medan tidak berdiri sendiri. Sejak akhir Agustus 2025, gelombang unjuk rasa telah mengguncang berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jakarta, Makassar, dan Yogyakarta. Beberapa elemen mahasiswa dan organisasi masyarakat sipil juga terlibat. Seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang menggelar aksi di DPRD Medan pada 3 September 2025 dengan tuntutan serupa. Termasuk penghapusan tunjangan mewah anggota DPRD dan transparansi anggaran.
Di tingkat nasional, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) bersama aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) telah melakukan audiensi dengan Menteri Sekretaris Negara pada 5 September 2025. Mendesak pemerintah untuk menghentikan kriminalisasi aktivis dan membentuk tim investigasi independen yang akan mengusut dugaan makar yang dinyatakan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Insiden Kekerasan dan Respons Aparat
Aksi unjuk rasa di Medan sebelumnya pada 29 Agustus 2025 sempat berujung ricuh. Dengan massa membakar pos polisi dan menyebabkan lumpuhnya lalu lintas. Aksi ini juga diwarnai dengan pengheningan cipta untuk Affan Kurniawan. Driver ojek online yang tewas selama demonstrasi di Jakarta. Organisasi seperti Amnesty International juga melaporkan insiden kekerasan oleh aparat kepolisian. Yang menyatakan terdapat dugaan penculikan, penganiayaan, dan intimidasi terhadap aktivis May Day 2025.






